Daftar Judi SLOT online Afrika

Category

Blog

Blog

Populernya Bahasa Mandarin di Afrika, Bagaimana Bisa?

Ada sebuah opini populer yang mengatakan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Kenapa demikian? Mungkin karena ketika bepergian ke luar negeri, bahasa Inggris adalah bahasa utama yang dijadikan bekal dalam berkomunikasi di sana. Dan ini berlaku di negara-negara berbahasa Inggris seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Australia.

Saat kita pergi ke India, Afrika Selatan, bahkan ke Rusia pun rasanya berbekal bahasa Inggris saja sudah cukup. Kebanyakan orang-orang belajar bahasa asing dengan beragam motif. Seperti halnya, karena bisnis Internasional, edukasi, atau bahkan hanya untuk gaya-gayaan. Banyak orang yang percaya bahwa kemampuan berbahasa bisa membantu mewujudkan cita-cita dan kesuksesan.

Maka dari itu, lelaki asal Dakar Senegal, ini memutuskan untuk belajar bahasa asing. Namun, alih-alih memilih bahasa Inggris, yang notabene (perhatiannya) sudah dikenal secara Internasional, Dieye justru mantap belajar bahasa Mandarin. Namun adakah alasan lain, mengapa bahasa Mandarin begitu Populer di Dakar, Afrika ?

Bagaimana Bisa Bahasa Mandarin Populer di Afrika?

Popularitas pembelajaran bahasa Mandarin telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir di hampir seluruh wilayah Afrika. Aspek yang paling banyak menarik perhatian adalah pemasukan Bahasa Mandarin di sekolah-sekolah. Bahasa Mandarin menjadi mata pelajaran baru di Afrika Selatan. Kementerian Pendidikan Afrika Selatan akan memperkenalkan bahasa asal Negeri Tirai Bambu itu ke dalam kurikulum sekolah.

Bukan tanpa alasan, adanya bahasa Mandarin ini sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada Cina sebagai mitra perdagangan besar. Langkah ini pun dikritik sekaligus disambut baik. Terdapat alasan khusus mengapa bahasa Mandarin begitu digandrungi anak-anak muda di Afrika. Alasannya dikarena Investasi dan bantuan yang diberikan Negara Cina kepada masyarakat Afrika.

Hadirnya One Belt One Road (sering disebut Jalur Sutra Abad 21) membuat Cina semakin gencar mengalirkan bantuan terutama di wilayah-wilayah yang masuk dalam kebijakan tersebut, salah satunya ialah Afrika. Dalam dua dekade terakhir, Cina telah menjadi mitra ekonomi terpenting Afrika.

Dengan menguasai bahasa Mandarin, masyarakat Afrika juga berharap akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan Cina, selain itu dapat berperan sebagai jembatan budaya antara Cina dan Senegal.

Adanya bahasa Mandarin ini sebagai upaya untuk berkomunikasi kepada masyarakat Cina. Perjanjian antara kedua negara tersebut fokus pada lima wilayah kerja sama, yaitu pengembangan kurikulum, matematika dan sains, pelatihan guru, pendidikan kejuruan, serta riset dan pengembangan dalam pendidikan dasar.

Juru bicara Kementerian Pendidikan Dasar, Troy Martens mengungkapkan bahwa kerja sama baru tersebut sangat bernilai untuk kedua negara, yakni Afrika dan Cina.

Cina Meningkatkan Investasi dan Bantuan ke Afrika

Cina dan Afrika sudah lama memiliki hubungan kerja sama. The Guardian menyebut, ada kerja sama negeri tirai bambu dengan Zambia dan Tanzania pada akhir 1960-an. Kerja sama itu berupa proyek pembangunan rel kereta api yang menghubungkan pelabuhan Tanzania, Dar ed Salaam ke Kapiri Mposhi, salah satu kota di Zambia.

Akan tetapi, hubungan diplomasi Cina dan Afrika diawali saat Cina menjadi tuan rumah pertemuan Forum on Cina-Africa Cooperation (FOCAC) pertama pada Oktober 2000. Pertemuan itu diawali dengan hadirnya empat negara Afrika yang mengharapkan hubungan kemitraan multilateral yang luas.

Pada pertemuan ketiga FOCAC yang diadakan enam tahun setelah pertemuan pertama, 44 pemimpin negara Afrika berpartisipasi. Keterlibatan Cina di Afrika mencakup pembiayaan infrastruktur (pembangunan jalan, LRT dan bendungan), manufaktur, hingga industri digital.

Masih menurut laporan McKinsey, terdapat lebih dari 10 ribu perusahaan di Cina yang beroperasi di Afrika dengan 90 persen di antaranya merupakan milik pribadi. Sepertiga dari total perusahaan tersebut bergerak di bidang manufaktur dan menguasai sekitar 12 persen produksi industri di Afrika—senilai 500 miliar dolar per tahun.

Memasuki tahun selanjutnya, Presiden Cina Xi Jinping menyatakan bahwa negaranya akan menggelontorkan dana US $ 60 miliar untuk Afrika. Dana tersebut akan digelontorkan dalam tiga bentuk, yaitu paket bantuan, investasi dan juga pinjaman. Rencana gelontoran dana tersebut disampaikan langsung saat pertemuan tiga tahunan pemimpin senior Cina dan Afrika di Forum Kerja sama Cina-Afrika (FOCAC) di Beijing.

Bantuan tersebut sama dengan yang dijanjikan pada KTT FOCAC 2015 lalu. Bantuan tersebut juga sejalan dengan ekspektasi banyak pihak, Cina tidak akan meningkatkan jumlah utang mereka ke Afrika. Ekonom internasional Standard Bank Group Jeremy Steven mengatakan bahwa putusan Cina tersebut tidak bisa ditafsirkan sebagai langkah mundur.

Sejak FOCAC berdiri, Afrika telah meminjam US$130 miliar dari Cina. Pinjaman tersebut sebagian besar digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Awal tahun ini, Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan bahwa utang-utang yang dihimpun Afrika bisa menjungkalkan mereka dalam krisis utang.

Ekspansi Cina di Afrika punya dampak yang tak main-main. Proyek-proyek yang didanai Cina membuka lapangan pekerjaan untuk ratusan hingga jutaan orang. Selain itu, keberadaan Cina juga memungkinkan untuk terjadinya transfer keterampilan sampai teknologi. Diprediksi, pada 2025 mendatang, proyek-proyek tersebut punya kapitalisasi nilai sebesar 250 miliar dolar.

Jumlah yang menggiurkan tentunya. Inilah yang kemudian mendorong pemerintah negara-negara Afrika setempat untuk membuka kesempatan bagi masyarakatnya, terutama generasi muda untuk belajar bahasa Mandarin. Jika mereka bisa menguasai bahasa Mandarin, maka tak sulit untuk mendapatkan keuntungan di tengah banyaknya proyek Cina di Afrika.

Bahasa Mandarin adalah pintu pertama memulai komunikasi dengan negara Cina.  Namun, bagaimanapun ada keraguan dari masyarakat setempat (Afrika) terhadap motivasi dari program pendidikan Cina ini. Beberapa warga Mathare yakin bahwa program tersebut justru menciptakan ketergantungan dan bukan mendukung pengembangan kawasan kumuh, sehingga meningkatkan ketegangan dalam beberapa bulan belakangan.

Arting Luo dari Pusat Sino-Afrika, sebuah lembaga kajian mengatakan investasi dalam pengajaran Bahasa Mandarin tersebut menjadi cerminan yang tidak adil atas keinginan Cina.

Namun disadari oleh Luo bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan perusahaan-perusahaan Cina untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat. Jika mereka lebih berpikiran terbuka dan berbicara dengan kelompok pemangku kepentingan yang lebih besar, maka mereka akan lebih berhasil dalam hubungan masyarakatnya.

Jejak Cina yang meluas di seluruh dunia, dari Asia-Pasifik ke Afrika dan Eropa melalui jaringan proyek infrastruktur yang disebut Belt and Road Initiative, telah membuat beberapa negara meningkatkan kewaspadaan atas pengaruh panjang Cina. Pengaruh tersebut telah dikritik karena menargetkan sektor politik maupun ekonomi.

Selama pidato di KTT terkait, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyampaikan bantahan keras tentang kritik terhadap bantuan pembangunan Cina di Afrika, yang banyak dinilai sebagai bentuk “kolonialisme baru”.

Menanggapi keresahan pelaku ekonomi global, Presiden Xi menyampaikan sebelum pembukaan resmi Forum Kerjasama Cina-Afrika, bahwa inisiatif “Belt and Road” murni untuk memperluas pasar. Dia meyakinkan bahwa Beijing ingin membangun pengaruh strategis di bidang ekonomi dan perdagangan, menjanjikan investasi Cina hadir tanpa ada ikatan politik apapun.

Jangkauan Cina ke Afrika bertujuan untuk membangun perdagangan, investasi dan hubungan politik dengan benua yang sering terlihat diabaikan oleh AS dan negara-negara Barat lainnya. Hal ini telah memberikan kesempatan menguntungkan bagi bisnis Cina, di sisi lain negara-negara Afrika senang menerima tawaran Cina yang datang tanpa tuntutan untuk perlindungan terhadap korupsi, pemborosan dan kerusakan lingkungan.

Meski Presiden Xi mengatakan Cina semakin mendekati pusat panggung dunia, ia juga mencatat bahwa negara itu mengejar kebijakan pertahanan nasional yang defensif. Perkembangan Cina tidak menjadi ancaman bagi negara manapun. Tidak peduli seberapa jauh Cina berkembang, tidak akan pernah mencari hegemoni (kekuasaan).

Nah, untuk itu sekianlah informasi diatas mengenai kerja sama Cina dan Afrika, jadi sudah dapat dimengertikan. Mengapa banyak anak muda Afrika belajar bahasa Mandari? Untuk itu dapat kita simpulkan bahwa Kerjasama Cina dan Afrika adalah jalan menuju kemakmuran bersama yang membawa manfaat bagi kedua bangsa. Semoga ulasan diatas memberi manfaat bagi pembaca.

Blog

Atasi Kemiskinan, Afrika Lakukan Pertemuan Untuk Membahas Program IDDA III

Seperti yang ada ketahui, Afrika merupakan negara yang kerap dikaitkan dengan kemiskinan, kelaparan dan perangKemiskinan yang dialami oleh negara ini memang terbilang sangat ekstrim dan tidak dapat diberantas tanpa adanya transformasi struktural ekonomi benua.

Transformasi struktural sendiri merupakan prasyarat dari peningkatan, kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan, sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Kalau berbicara tentang perekonomian, atau yang lebih spesifiknya lagi tentang pembangunan ekonomi, tentu tidak akan lepas kaitannya dari apa yang disebut dengan transformasi struktural perekonomian yang disebutkan di atas tadi.

Peranan Transformasi Struktural Ekonomi Untuk Afrika

Teori ekonomi menyatakan bahwa proses pembangunan ekonomi akan diiringi adanya perubahan struktur dari perekonomian itu sendiri. Terdapat beberapa teori misalnya dari Arthur Lewis dan Chennery yang membahas mengenai hal tersebut.

Lantas, apa sebenarnya yang berubah dari struktur perekonomian seiring dengan proses pembangunan ekonomi? Hal yang paling dapat dilihat adalah dominasi sektor dalam perekonomian.

Jika sebelumnya perekonomian didominasi oleh sektor pertanian, maka seiring dengan pembangunan ekonomi, sektor industri akan segera menggantikan dominasi sektor pertanian tersebut.

Nah, untuk mencapai tujuan tersebut, Afrika harus melakukan industrialisasi (suatu proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri). Akan tetapi hal itu juga harus dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan.

Pertemuan Untuk Membahas Pengembangan Industri Afrika

Kepala Negara, Pemerintahan Afrika dan beberapa pejabat tinggi lainnya beberapa waktu yang lalu ambil bagian dalam sebuah acara khusus, yang didedikasikan pada Pengembangan Industri Ketiga untuk Afrika (IDDA III), yang diadakan di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan September 2017 yang lalu.

Tujuan Pertemuan

Acara tingkat tinggi ini dilakukan secara tertutup, dengan judul pembahasan “Dekade Pengembangan Industri Ketiga untuk Afrika (2016-2025) : Dari komitmen politik terhadap tindakan di lapangan“. Pertemuan atau acara ini bertujuan untuk mencapai enam tujuan, antara lain:

  • Mendiskusikan dan mendukung fitur utama dari program atau roadmap IDDA III.
  • Mencapai prestasi yang telah dicapai sehubungan dengan pelaksanaan IDDA III.
  • Memperkuat kemitraan strategis kolektif untuk mendukung transformasi struktural jangka panjang.
  • Disengaja dalam mekanisme pembiayaan yang inovatif untuk mendukung pelaksanaan IDDA III.
  • Mengulangi komitmen masyarakat internasional terhadap pelaksanaan IDDA III.
  • Menyoroti peran dan pentingnya revolusi data Afrika dalam mendukung IDDA III.

Sejak tahun 2000 sebenarnya benua Afrika telah mencatat tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup mengesankan. Bahkan Afrika sempat diprediksi menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia. Kinerja yang luar biasa ini sebagian besar didorong oleh ledakan komoditas dan bantuan pembangunan yang berkepanjangan.

Sementara benua tersebut menunjukkan keragaman yang besar dalam lintasan sosio-ekonomi negaranya, tingkat pertumbuhan pada umumnya menutupi kekurangan transformasi struktural, yang diperlukan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan tentunya juga ramah lingkungan.

Negara-negara di Afrika berusaha mengubah struktur ekonomi negara mereka secara substansial, dengan cara meningkatkan pangsa industri, terutama dalam bidang manufaktur, investasi nasional, output nasional dan perdagangan, sebagaimana tercermin dalam Agenda 2063 Afrika dan di dalam strategi pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara Afrika.

Manufaktur merupakan suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan, tenaga kerja dan suatu medium proses untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Istilah ini biasa digunakan untuk aktivitas manusia, mulai dari kerajinan tangan sampai ke produksi dengan menggunakan teknologi tinggi. Namun meskipun demikian, istilah ini lebih sering digunakan dalam dunia industri, dimana bahan baku diubah menjadi barang jadi dalam skala yang lebih besar.

Manufaktur ada di dalam segala bidang sistem ekonomi. Dalam ekonomi pasar bebas, manufakturing biasanya selalu berarti produksi secara massal untuk dijual ke pelanggan untuk mendapatkan keuntungan.

Upaya sebelumnya yang dilakukan untuk mendorong transformasi ekonomi yang berkelanjutan di Afrika diketahui telah gagal dan kebutuhan akan pendekatan baru sudah sangat jelas.

Yang dibutuhkan oleh negara Afrika saat ini adalah proses berbasis luas dan berbasis negara yang memanfaatkan sumber keuangan dan non-keuangan, mempromosikan integrasi regional dan memobilisasi kerjasama di antara mitra pembangunan Afrika.

Visi untuk implementasi IDDA III yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu oleh Afrika adalah dengan tegas menunjuk Afrika menuju pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan.

Kerangka dan roadmap untuk implementasi pendekatan baru ini akan disahkan oleh masyarakat internasional pada acara tingkat tinggi, tepatnya pada Sidang Umum Majelis Umum PBB ke 72.

Keynote speech atau ceramah utama diharapkan akan disampaikan oleh Ketua Komisi Uni Afrika. Pernyataan singkat dari peserta tingkat tinggi, termasuk African Head of State, juga dibuat. Acara atau pertemuan ini akan diikuti dengan diskusi interaktif. Acara akan dimoderatori oleh wartawan CNN, yaitu Zain Asher.

Wartawan juga diundang untuk menghadiri konferensi pers pada hari Kamis 21 September 2017 yang lalu. Informasi lebih lanjut akan dibagikan pada waktunya.

Kemitraan dan penciptaan sinergi untuk implementasi efektif IDDA III ini diharapkan dapat ditingkatkan melalui acara ini, serta peningkatan kesadaran akan model kemitraan yang ada, untuk mempercepat pengembangan industri yang inklusif dan berkelanjutan, seperti Program Kemitraan Negara UNIDO.

Itulah tadi sedikit informasi mengenai pertemuan tingkat tinggi yang membahas tentang pengembangan industri ketiga negara Afrika untuk periode 2016-2025. Semoga pertemuan ini bisa menemukan atau menghasilkan keputusan yang bijaksana untuk membantu afrika keluar dari kemiskinan. Dan untuk anda, terima kasih sudah membaca artikel ini.

Blog

Pasar Afrika Selatan Memberi Peluang Emas Bagi Indonesia Untuk Mendunia

Pasar Afrika Selatan cukup menggiurkan bagi Indonesia. Selain masih terbuka peluang untuk menerima produk Indonesia, Afrika Selatan juga jadi pintu ke negara-negara tetangganya. Hanya saja, masalah tarif masih menjadi kendala Untuk meningkatkan perdagangan dengan negara asal mendiang Nelson Mandela itu, pekan ini Kementerian Perdagangan memfasilitasi 18 pengusaha dalam negeri dari berbagai sektor unggulan untuk bertemu dan memperkenalkan produk-produknya ke pengusaha Afrika Selatan.

“Para pelaku usaha datang dari Indonesia untuk mendapatkan informasi dan mendalami peluang bisnis, serta mendapatkan kesepakatan bisnis dengan rekanan di Afrika Selatan,” kata Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda, Kamis waktu setempat, seperti dikutip oleh Antara. Pada pertemuan itu, pengusaha Indonesia diperkenalkan pada kurang lebih sebanyak 150 pengusaha Afrika Selatan.

Sejauh ini, produk Indonesia yang diminati Afrika Selatan antara lain kelapa sawit, karet, produk otomotif, bahan kimia, sepatu dan kakao. Sementara, produk Afrika Selatan yang masuk ke Indonesia adalah bubuk kayu, aluminium, buah-buahan dan tembaga. Tercatat, total perdagangan kedua negara pada 2016 mencapai lebih dari satu miliar dolar Amerika Serikat. Dari total nilai perdagangan tersebut, nilai ekspor mencapai US$727,8 juta dan impor senilai US$290,8 juta, sehingga Indonesia mengantongi surplus sebesar US$437 juta.

Pasar Afrika Selatan merupakan salah satu target dan tujuan utama ekspor Indonesia yang diharapkan meningkat ke depannya,” kata Arlinda.

Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan Suprapto Martosetomo mengatakan kunjungan pelaku usaha itu meningkatkan potensi perdagangan kedua negara. Menurutnya, Afrika Selatan memiliki posisi strategis yakni negara besar yang memiliki pengaruh di kawasan Afrika, termasuk dalam berbisnis. Tak heran jika Afrika Selatan bisa menjadi pintu masuk produk-produk Indonesia, khususnya negara-negara kawasan Afrika yang tergabug alam Southern African Custom Union (SACU). Negara anggota SACU adalah Botswana, Lesotho, Namibia, Swaziland dan Afrika Selatan.

Indonesia melihat Afrika Selatan sebagai pusat investasi, perdagangan dan juga pintu gerbang untuk mengakses pasar Afrika. Khususnya, untuk membuka kerja sama perdagangan dengan negara anggota SACU,” kata Arlinda.

Dibebani Tarif Tinggi

Sayangnya, hubungan perdagangan Indonesia dan Afrika Selatan masih terkendala pengenaan tarif impor yang tinggi. Afrika Selatan mengenakan tarif bea masuk impor sebesar 20-40%. Tingginya tarif ini menyebabkan daya saing produk Indonesia berkurang. Berdasarkan pengamatan KBRI Pretoria, Afrika Selatan adalah salah satu tarif impor Afrika yang cukup tinggi adalah untuk produk furnitur sebesar 20%, sementara produk garmen anak mencapai 40-50%. Diharapkan, jika disepakati kedua belah pihak, opsi penurunan tarif tersebut bisa mendongkrak ekspor Indonesia.

Saya yakin, penurunan tarif menjadi salah satu aspek yang dapat meningkatkan nilai perdagangan antara Indonesia dan Afrika Selatan. Demikian pula dengan negara-negara anggota SACU,” ujar Arlinda.

Sementara itu, Suprapto mengatakan jika produk-produk Indonesia mampu masuk dan bersaing di Afrika Selatan, maka produk tersebut akan bisa diterima oleh negara lain yang masuk dalam jalur distribusi Afrika Selatan.

Saya lihat, produk-produk yang ada di negara tetangga itu berasal dari Afrika Selatan. Pengaruhnya yang luar biasa ke negara tetangga, ini yang kita katakan sebagai pintu masuk bagi produk Indonesia,” kata Suprapto.

Pemerintah pun berencana membuka opsi dan mendalami adanya kemungkinan untuk menyepakati Preferential Trade Agreement (PTA) guna menyelesaikan masalah tersebut, baik dengan Afrika Selatan maupun juga dengan negara-negara anggota SACU. PTA ini diharapkan dapat mendorong perdagangan yang seimbang dengan negara-negara di Afrika. Sejauh ini, kajian komprehensif PTA telah disiapkan pemerintah. Melalui kajian ini pemerintah dapat menetapkan hal-hal yang masuk dalam daftar penawaran dan daftar permintaan yang dituangkan dalam PTA.

Pameran Produk Terbesar Indonesia

Dalam kesempatan itu, Arlinda juga mengundang pengusaha Afrika Selatan untuk mengunjungi pameran produk Indonesia terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 yang akan diselenggarakan pada 11-15 Oktober 2017 mendatang. Ia mengatakan pada 2016, tercatat kurang lebih ada 35 pengusaha asal Afrika Selatan menyambangi TEI. Total nilai transaksi yang dihasilkan mencapai US$27 juta.

Kami harap pada tahun ini akan lebih banyak lagi pengusaha asal Afrika Selatan yang datang pada TEI 2017, ini merupakan pameran bisnis terbesar di Indonesia,” kata Arlinda.

Tercatat, hingga hari terakhir penyelenggaraan TEI 2016 total nilai transaksi yang dihasilkan mencapai US$974,76 juta atau setara dengan Rp12,7 triliun. Sementara pada 2017, total transaksi ditargetkan mencapai US$1,1 miliar. TEI 2017 yang akan memamerkan 300 produk dan jasa ini akan diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten. Adapun tema yang akan diusung adalah Global Partner for Sustainable Resources.

Target pengunjung dan pembeli potensial pada perhelatan dagang ini mencapai 16.000 orang dan 1.100 peserta pameran. Para peserta atau eksibitor merupakan produsen, eksportir, serta pemasok produk dan jasa Indonesia yang berkeinginan memperluas pasar mereka ke luar negeri. Pemerintah pada 2017 menargetkan peningkatan ekspor nonmigas sebesar sebesar 5,6% meskipun kondisi perekonomian global dinilai masih cenderung melambat. Target tersebut lebih rendah dari yang tertuang dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah (RPJM) pada 2017 tercatat sebesar 11,9%.

Salah satu upaya untuk meningkatkan ekspor nonmigas tersebut dengan berupaya menembus pasar-pasar baru seperti India, Rusia, negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Sementara untuk pasar tradisional akan tetap dipertahankan. Secara kumulatif berdasar data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Juni 2017 mencapai US$79,96 miliar atau meningkat 14,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2016. Pada periode itu, ekspor nonmigas mencapai US$72,36 miliar atau meningkat 13,73 persen.

Blog

Perekonomian Membaik, Afrika Akan Menjadi Negara Dengan Pertumbuhan Tercepat Kedua di Dunia

Pada tahun 2010 yang lalu, McKinsey Global Institute (MGI) telah menggambarkan potensi dan kemajuan ekonomi Afrika sebagai “singa yang sedang bergerak“.

Dan saat ini, meskipun harga komoditas global (dunia) telah jatuh dan adanya guncangan politik yang memperlambat pertumbuhan di Afrika Utara, namun singa ekonomi Afrika masih tetap bergerak maju.

Secara keseluruhan, benua ini mencapai pertumbuhan PDB tahunan yang rata-rata adalah sekitar 5,4% antara tahun 2000 dan 2010, serta telah menambahkan sebesar 78 miliar dolar AS per-tahunnya ke PDB (sesuai harga yang berlaku pada tahun 2015).

Tapi sayangnya pertumbuhan tersebut harus melambat menjadi 3,3%, atau menjadi sekitar $ 69 miliar, yang terjadi satu tahun di antara tahun 2010 dan 2015.

Apakah kilauan pendapatan dari pertimbuhan ekonomi itu hanya akan menjadi sejarah saja untuk Afrika? Apakah nantinya pertumbuhan ekonominya akan semakin menurun seperti yang kemarin-kemarin? 

Jawaban pertanyaan di atas telah dijawab dengan penelitian baru yang dilakukan oleh MGI, yang akan dipublikasikan secara lengkap pada bulan Oktober 2016 lalu. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa jawabannya adalah “tidak“. Sangat jelas bahwa kini kabar mengenai pertumbuhan benua ini telah menjadi lebih bernuansa.

Kondisi Ekonomi Afrika Yang Menantang

Perlambatan pertumbuhan Afrika sejak tahun 2010 terkonsentrasi pada dua kelompok ekonomi, yaitu eksportir minyak dan negara-negara yang berada di bagian utara masih sedang dalam pembangunan kembali setelah terjadinya kejatuhan politik akibat perang atau musim semi Arab.

Diketahui bahwasannya pada masa itu perekonomian Mesir, Libya dan Tunisia tidak tumbuh sama sekali antara tahun 2010 dan 2015 dan sangat berbeda dengan pertumbuhan tahunan rata-rata di antara tiga ekonomi yang berkisar 4,8% pada dekade sebelumnya.

Tingkat pertumbuhan ekonomi di antara para eksportir minyak seperti Aljazair, Angola, Nigeria dan Sudan juga turun tajam menjadi 4% dari yang sebelumnya yaitu 7,1%. Pertumbuhan produktivitas juga menurun di dua sektor ekonomi ini.

Tingkat pertumbuhan produktivitas tahunan di negara-negara Arab Spring juga turun dari 1,7% menjadi 0,6% dan di negara-negara pengekspor minyak Afrika turun dari 2,6% menjadi 0,4%.

Terlepas dari kemerosotan dalam kinerja ekonomi ini, negara-negara Afrika lainnya masih dapat mempertahankan tingkat PDB dan pertumbuhan produktivitas yang stabil selama lima tahun terakhir ini.

GDP riil tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 4,4% per tahun, persentase ini hampir sama seperti yang didapat pada tahun 2005 sampai 2010. Produktivitas tumbuh pada tingkat tahunan gabungan sebesar 1,7% selama periode yang sama, nilai tersebut masih konsisten dengan jumlah persentase 1,6% pada tahun 2000 sampai 2010.

Ketahanan dari sebagian besar negara-negara yang berada di Afrika dalam menghadapi kondisi yang menantang ini telah mencerminkan diversifikasi berkelanjutan di banyak negara yang ada di benua tersebut.

Antara tahun 2010 dan 2014, bagian jasanya telah berhasil menghasilkan sebanyak 48% pertumbuhan PDB Afrika. Nilainya meningkat dari 44% pada dekade sebelumnya.

Pertumbuhan di sektor manufaktur Afrika juga turun menjadi 4,3% per tahun antara 2010 dan 2014, namun utilitas dan konstruksi mencapai ekspansi secara signifikan untuk memastikan bahwa seluruh industri menghasilkan sebanyak 23% untuk pertumbuhan Afrika. Tentu saja jumlah ini meningkat dari 17% pada dekade sebelumnya.

Sumber daya memberikan kontribusi negatif sebesar 4% terhadap pertumbuhan antara 2010 dan 2014. Jika dibandingkan dengan dekade yang sebelumnya, sumber daya tersebut telah memberikan kontribusi positif langsung sebesar 12%.

Tiga Tren Untuk Masa Depan Afrika

Dalam jangka panjang, terdapat tiga tren positif yang kuat, yang cenderung menopang pertumbuhan dari Afrika. Apa sajakah tren yang dimaksud tersebut? Nah, sebelumnya anda harus paham dengan pengertian tren dalam konteks ini. Kalau tidak, anda akan bingung saat membaca dan memahami artikel ini.

Tren yang dimaksud di dalam artikel ini merupakan rangkaian rekam jejak harga dalam bentuk grafik, dengan kecondongan untuk mengarah ke atas (uptrend) atau ke bawah (downtrend).

Konsep dasar tentang tren (trend) ini adalah hal yang sangat mendasar dalam berbagai pendekatan analisa pasar, yang berbasis kepada analisa teknikal. Semua tool yang digunakan chartist seperti level support dan resistance, price patterns, moving average, trendline dan lain sebagainya.

Semuanya bertujuan sama, yaitu untuk membantu dalam mengukur tren yang sedang terjadi di pasar, supaya Anda dapat berpartisipasi dalam tren tersebut.

Pertama, benua ini memiliki populasi muda yang bekerja menjadi buruh. Ini merupakan salah satu aset yang sangat berharga di dunia yang sudah semakin menua ini. Pada tahun 2034, Afrika diperkirakan memiliki populasi usia kerja terbesar di dunia, yaitu sebanyak 1,1 miliar.

Belakangan ini, ada beberapa keberhasilan yang telah berhasil didapat oleh benua ini. Salah satunya adalah dalam menciptakan lapangan kerja, dimana terdapat sebanyak 21 juta pekerja baru yang stabil selama lima tahun terakhir ini dan bahkan telah mencapai 53 juta dibandingkan 15 tahun sebelum-sebelumnya.

Kestabilan pekerjaan atau lapangan kerja tumbuh pada tingkat 3,8% antara tahun 2000 dan 2015, jika dilihat dari jumlahnya persentase tersebut mengalami peningkatan 1% lebih cepat dari pertumbuhan angkatan kerja.

Dengan persentase seperti ini, rasanya masih jauh dari lintasan penciptaan lapangan kerja yang dibutuhkan Afrika untuk mendorong pertumbuhan di masa depan, namun meskipun begitu, hal ini memang sudah pantas disebut sebagai sebuah kemajuan.

Kedua, Afrika masih mengalami urbanisasi dan sebagian besar keuntungan ekonomi terbentang di depan. Produktivitas di kota tiga kali lebih tinggi daripada di daerah pedesaan. Menurut PBB, Pada dekade berikutnya, sebanyak 187 juta orang Afrika akan tinggal di kota.

Ekspansi urban ini cukup berkontribusi terhadap pertumbuhan konsumsi oleh rumah tangga dan bisnis. Konsumsi rumah tangga tumbuh pada tingkat tahunan gabungan sebesar 4,2% antara tahun 2010 dan 2015. Pertumbuhan ini lebih cepat dari tingkat pertumbuhan PDB benua itu sendiri, yang mencapai $ 1,3 triliun pada tahun 2015.

Kami memproyeksikan kalau konsumen Afrika akan menghabiskan sekitar $ 2 triliun pada tahun 2025. Akan tetapi, perusahaan perlu mengumpulkan intelijen pasar atau sejumlah informasi yang terperinci di mana sebenarnya pasar konsumen yang paling menjanjikan.

Berdasarkan data yang didapat, hanya ada 75 kota saja yang menyumbang 44% dari total konsumsi pada tahun 2015. Konsumen Nigeria sendiri dapat mencakup hingga 30% pertumbuhan konsumsi Afrika selama dekade berikutnya.

Segmen lain yang ditargetkan mencakup rumah tangga yang berpenghasilan lebih dari $ 20.000 per tahun di Afrika Selatan dan Maroko, yang merupakan dua dari ekonomi paling beragam yang ada di Afrika dengan basis konsumen yang besar, atau yang menghasilkan $ 5.000 sampai $ 20.000 di beberapa negara Afrika Timur dan yang pertumbuhannya lebih cepat.

Ketiga, ekonomi Afrika juga memiliki posisi yang baik untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan teknologi yang cepat, yang dapat membuka pertumbuhan dan melompati keterbatasan dan biaya infrastruktur fisik di bidang ekonomi yang penting dalam bidang kehidupan ekonomi.

Afrika Timur sudah menjadi pemimpin global dalam pembayaran mobile. Penetrasi ponsel pintar ini diperkirakan akan mencapai setidaknya sekitar 50% pada tahun 2020 dari tahun 2010 yang hanya berhasil mencapai 2%.

Di Afrika Sub-Sahara, seluler memungkinkan koneksi antara mesin-ke-mesin yang diaktifkan diperkirakan akan tumbuh sekitar 25% per tahun sampai bisa mendapatkan 30 juta pada tahun 2020, menurut GSMA Intelligence, yang mengubah permainan di beberapa sektor dari perawatan kesehatan menjadi sebuah kekuatan.

Memperkuat prospek pertumbuhan positif adalah kelanjutan dari peningkatan investasi infrastruktur. Pengeluaran untuk infrastruktur meningkat dua kali lipat dalam dekade terakhir ini dan sekarang telah mencapai 3,5% dari PDB.

Hambatan Pertumbuhan Ekonomi Afrika

Investor asing telah mencatat fundamental positif tersebut. Investasi langsung dari bangsa asing diketahui telah mencapai $ 73 miliar pada tahun 2014 yang lalu. Jumlah tersebut naik dari $ 14 miliar pada tahun 2004.

Afrika saat ini menampung sebanyak 700 buah perusahaan besar dan semakin meningkatkan pan-Afrika, sehingga bisa menghasilkan pendapatan lebih dari $ 500 juta.

Untuk anda yang masih belum tahu apa yang dimaksud dengan Pan-Africa yang dimaksud di atas tadi, anda bisa melihat penjelasannya di bawah ini:

Pan-Afrikanisme adalah suatu gerakan yang bertujuan untuk menyatukan Afrika. Selain merupakan suatu gerakan, Pan Afrikanisme juga merupakan suatu pandangan sosiopolitik dunia dan filosofi moral, yang ditujukan untuk penduduk Afrika asli dan yang berasal dari diaspora Afrika untuk menjadi bagian dalam “Komunitas Afrika Global“.

Pada awalnya, Kongres Pan-Afrikanisme pertama diadakan di London pada tahun 1900 dan telah menghasilkan keputusan bahwa Pan Afrikanisme bertujuan untuk menyatukan bangsa kulit hitam sedunia di bawah pengaruh kuat bangsa Negro AS dan Hindia Barat.

Namun pada kongres Pan-Afrikanisme yang diadakan di Manchester pada tahun 1945, tema utama gerakan tersebut berubah menjadi kemerdekaan dan persatuan Afrika. Nah, itulah tadi penjelasan mengenai apa itu pan-afrika. Kalau anda sudah paham, penjelasan akan kembali dilanjutkan pada pertumbuhan ekonomi di benua Africa.

Di atas tadi sudah disebutkan bahwa ada sekitar 700 perusahaan besar yang ada di benua tersebut. Perusahaan-perusahaan ini bersama-sama menghasilkan pendapatan sebesar $ 1,4 triliun dan banyak diantara mereka yang terus tumbuh dengan sangat cepat.

Perusahaan besar yang bergerak di bidang utilitas, transportasi dan kesehatan kabarnya telah mencapai pertumbuhan pendapatan dua digit dalam mata uang lokal antara tahun 2008 dan 2014.

Terlepas dari potensi ekonomi Afrika yang terus berlanjut, para pembuat kebijakan pastinya tidak akan hanya berdiam diri saja. Mereka juga perlu memikirkan tantangan dan segala kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan.

Karena harga minyak dan komoditas lainnya sudah jatuh, keuangan Afrika juga sedang memburuk: benua tersebut mengalami defisit anggaran rata-rata tertimbang lebih dari 6,9% dari PDB pada tahun 2015 dari hanya 3,3% dari PDB lima tahun sebelumnya.

Pada tahun 2010, Afrika secara keseluruhan menjalankan surplus akun berjalan kecil sebesar 0,4% dari PDB; pada tahun 2015 telah berubah menjadi defisit sebesar 6,7%. Ada juga informasi yang mengatakan bahwa beberapa negara Afrika sedang dalam pembicaraan untuk bantuan keuangan, termasuk Angola dengan IMF dan Nigeria dengan pemerintah China.

Ketidakstabilan politik juga semakin meluas. Jumlah insiden kekerasan yang diukur oleh Program Data Konflik Uppsala telah melonjak dari 858 di tahun 2010 menjadi 2022 pada tahun 2014.

Ketidakstabilan di beberapa wilayah yang berada di kawasan ini telah membuat banyak korban tewas. Lima tahun yang lalu, sebagian besar wilayah di Afrika sempat booming atau menjadi bahan pembicaraan banyak orang di dunia.

Sebanyak 25 dari 30 ekonomi teratas telah mempercepat pertumbuhan mereka dari dekade sebelumnya. Pada tahun 2016 yang lalu, jumlah negara yang pertumbuhannya serupa atau lebih cepat diketahui telah berkurang setengahnya atau menjadi 13, yang terdiri dari Botswana, Kamerun, Cote d’lvoire, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Gabon, Ghana, Kenya, Madagaskar, Namibia, Senegal, Tanzania dan Zimbabwe.

Dan enam ekonomi terbesar yang ada di Afrika telah mengalami perlambatan pertumbuhan, sebagian terlihat dari penurunan harga sumber daya yang menjadi lebih rendah dan juga diakibatkan oleh faktor musim semi Arab.

Tingkat Pertumbuhan dan Nilai Stabilitas

Mix Picture ini berarti bahwa perusahaan dan investor yang menilai potensi Afrika perlu lebih spesifik mengenai pertumbuhan dan stabilitas masing-masing negara.

Sebenarnya ada tiga aspek stabilitas yang sudah diketahui atau diteliti, yaitu: stabilitas makroekonomi, diversifikasi ekonomi dan stabilitas politik dan sosial. Tiga kelompok negara yang berbeda muncul dari analisis ini.

Sekitar seperlima dari jumlah PDB di benua Afrika berasal dari serangkaian negara yang biasa disebut sebagai bintang pertumbuhan, dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan nilai stabilitas yang tinggi.

Negara-negara ini, di antaranya adalah Cote d’lvoire, Ethiopia, Kenya, Maroko dan Rwanda, tidak bergantung pada sumber daya untuk pertumbuhan. Mereka secara aktif mereformasi ekonomi mereka sendiri dan selalu berusaha untuk meningkatkan daya saing.

Set kedua negara, petani yang tidak stabil, yang menyumbang 43% dari PDB Afrika, telah mengalami tingkat pertumbuhan yang tinggi selama lima tahun terakhir ini, namun memiliki nilai stabilitas yang lebih rendah.

Kelompok ini mencakup negara-negara seperti Angola, Republik Demokratik Kongo, Nigeria dan Zambia, yang semuanya memiliki potensi yang jelas namun perlu untuk melakukan diversifikasi ekonomi pada sumber daya mereka, memperbaiki keamanan mereka, atau menstabilkan ekonomi makro mereka.

Dan pada akhirnya, ada juga petani lambat yang hanya bisa menyumbang 38% dari PDB pada tahun 2015. Kelompok ini mencakup beberapa negara seperti: Afrika Selatan, Madagaskar dan tiga negara besar lainnya yang ada di Afrika Utara yang terlibat dalam Musim Semi Arab, yaitu Mesir, Libya dan Tunisia.

Tindakan Lanjutan Untuk Menuju Kemakmuran

Hal yang paling penting saat ini yang perlu dilakukan bagi para pembuat kebijakan dan para pebisnis adalah untuk bekerja sama dalam mempercepat reformasi ekonomi dan memperkuat fundamental yang mendukung pertumbuhan perekonomian tersebut.

Salah satu hal yang harus dijadikan prioritasnya adalah diversifikasi ekspor dan sumber pendapatan nasional untuk menghilangkan volatilitas, yang muncul saat harga sumber daya berubah drastis.

Hal ini penting dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan Afrika dalam membiayai pembangunannya sendiri, dengan lebih memobilisasi sumber daya domestik melalui pajak dan pabean yang lebih baik dan menemukan cara untuk mendorong penghematan lebih banyak.

Kebijakan ini akan mewajibkan negara-negara untuk meningkatkan ketentuan pensiunan, memperluas akses terhadap layanan perbankan dan keuangan serta memperdalam pasar modal mereka.

Perencanaan yang lebih baik seputar urbanisasi ini juga sangat lah penting untuk membuka peluang pertumbuhan secara keseluruhan dan membuat kota-kota yang berada di Afrika bisa ikut bersaing.

Fokus yang lebih kuat dan tak kalah pentingnya adalah untuk memperluas pasokan listrik. Listrik diperlukan untuk memecahkan tantangan nomor satu bagi lingkungan bisnis.

Tiga bidang lain yang penting bagi pertumbuhan perekonomian yang juga patut mendapat fokus perhatian adalah memperbaiki sistem pendidikan untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan sekarang dan ke masa depan, upaya lebih lanjut untuk integrasi regional untuk membuka manufaktur dan perdagangan regional dan memperbaiki infrastruktur fisik dan digital Afrika.

Turbulensi, baik ekonomi maupun politik di beberapa bagian benua dalam beberapa tahun terakhir pasti akan merasa terkejut, namun tetap saja tidak akan menggagalkan kisah pertumbuhan Afrika yang mengesankan.

IMF masih memperkirakan bahwa Afrika akan menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia antara tahun 2016 dan 2020 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 4,3%. Bisa dikatakan kalau ini merupakan pencapaian yang sangat baik bagi benua Afrika.

Apa yang telah terbukti selama lima tahun terakhir ini adalah bahwa singa ekonomi Afrika perlu meningkatkan kembali kebugaran mereka untuk bisa memanfaatkan potensi yang mereka miliki sebaik mungkin dan melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju kemakmuran.

Jika anda mengikuti bagaimana pekembangan perekonomian di benua Afrika ini, anda pastinya akan menyadari bahwa sudah banyak sekali perubahan yang terjadi di sana. Anda bisa melihat bagaimana kerasnya usaha mereka untuk bangkit dari kemiskinan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dan hasilnya, usaha mereka tidaklah sia-sia. Dari tahun ke tahun, pertumbuhan perekonomian di sbenua ini terus meningkat. Meskipun di beberapa wilayah tertentu pertumbuhannya masih sangat lambat, namun jika mereka bisa mempertahankan atau bahkan lebih berusaha lagi memperbaiki diri, mungkin sangat mungkin jika dikedepannya nanti Afrika tidak lagi menyandang sebutan sebagai negara termiskin di dunia.

Bahkan melihat begitu signifikannya pertumbuhan tersebut, IMF bahkan sampai memperkirakan bahwasannya benua Afrika akan menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia. Keren kan guys?

Seperti yang telah dibahas tadi di atas, ada beberapa hal yang perlu dilakukan ataupun diperbaiki oleh Afrika untuk bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi wilayah yang jauh dari kata kemiskinan, serta bisa menyejahterakan seluruh masyarakatnya.

Salah satunya adalah dengan cara memperbaiki dan meningkatkan beberapa bidang tertentu yang memang memerlukan penangan yang serius. Jika semua bidang tersebut sudah berhasil ditangani, niscaya dikedepannya Afrika bisa menjadi negara yang maju dikedepannya.

Close